d2 studio photography & art

http://www.weddingpreweddingmurah.blogspot.com
http://www.hiasanmahar.com

Mode ‘auto’ sangatlah bagus digunakan untuk belajar mengenal dasar-dasar aturan dan komposisi yang ada di fotografi. Tetapi kita akan segera menemukan banyaknya keterbatasan kreatifitas yang terdapat dalam mode ‘auto’ pada kamera.
Jangan takut untuk merubah mode ‘auto’ ke ‘manual’ meskipun kita masih dalam taraf pemula (beginner). Ber-eksperimen dan mengeksplorasi setting yang terdapat pada kamera merupakan salah satu kunci dari pengenalan secara luar dan dalam kamera kita.
Periksalah setting manual untuk mengetahui apa sajakah level-level yang tersedia pada kamera. Kita dapat memilih dan mencoba satu-persatu mode manual yang ada P,  A, S, atau M.
Untuk mengetahui kontrol exposure sepenuhnya pada kamera kita bisa mencoba mode M, A, atau S sebagai alternatif pilihan apakah hanya perlu merubah setting ‘aperture’ ataukah ‘shutter speed’ – nya saja yang dibutuhkan. Program mode P bisa dicoba dengan merubah setting ISO – nya saja, disamping setting-setting exposure lainnya.
Ada 3 elemen yang berpengaruh agar exposure seimbang.
  1. Aperture, setting ini menentukan jumlah cahaya yang masuk ke lensa, bekerja layaknya pupil (iris) pada mata kita. Setting aperture yang lebar (f1.4 – f8) akan mendapatkan banyak cahaya dan bisa menghasilkan efek blur di background pada scene yang kita potret serta dapat menghasilkan efek DOF (depth of field) tetapi perlu pula disertai setting lainnya agar tidak terjadi ‘under exposure’. Sebaliknya setting aperture yang sempit (f8 – f22) akan mendapatkan sedikit cahaya tetapi bisa menghasilkan foto yang terfokus secara keseluruhan baik foreground maupun background.
  2. Shutter speed, setting ini menunjukkan berapa lama ‘shutter’ terbuka yang mana dapat menentukan pula jumlah cahaya yang masuk pada lensa. Setting shutter speed yang lambat  diperlukan apabila pemotretan dalam kondisi ‘low light’ (minim cahaya), sedangkan shutter speed yang cepat diperlukan jika kita ingin ‘membekukan’ obyek bergerak atau memotret pada siang hari yang cerah agar terhindar terjadinya ‘over exposure’. Perlu diingat bahwa setting yang lambat (kurang dari 1/60 detik) cenderung lebih sensitif terhadap getaran yang berakibat foto yang dihasilkan menjadi ‘blurry’ atau tidak fokus.
  3. ISO, setting yang mengontrol seberapa sensitif kamera menangkap cahaya. Untuk menangkap lebih banyak cahaya dilakukan dengan cara menaikkan jumlah bilangan ISO begitu juga sebaliknya apabila kondisi cerah kita bisa menurunkan bilangan ISO. Pada umumnya jika memotret dalam kondisi ‘low light’ kita bisa merubah setting ISO apabila kombinasi setting shutter speed dan aperture sudah tidak ideal lagi untuk dirubah. Dalam merubah setting ISO perlu diingat bahwa semakin besar bilangan akan semakin besar pula resiko terjadi ‘noise’ - tergantung dari kemampuan kamera.  
Jika ke-3 elemen tersebut dikombinasikan dengan benar, akan menghasilkan foto dengan kondisi exposure yang lebih baik secara keseluruhan. Tentunya disertai dengan banyak latihan menggunakan dan memahami karakteristik mode manual tersebut bekerja, pasti akan lebih terbiasa juga kita menggunakannya. Meskipun terkadang kondisi di lokasi pemotretan tidaklah ideal untuk merubah setting secepat mungkin, paling tidak apabila kita memahami ke-3 elemen dengan matang kita tidak terburu-buru untuk menggunakan mode auto.
Selamat mencoba.

Panduan setting exposure yang ideal
  • Langit cerah         : aperture f16, shutter speed 1/200, ISO 200
  • Langit berawan    : aperture f11, shutter speed 1/125, ISO 400
  • Indoor                  : aperture f8, shutter speed 1/60, ISO 400
  • Malam                   : aperture f1.8, shutter speed 1/60, ISO 1600
  • Portrait                 : aperture f1.8, shutter speed 1/125, ISO 400

d2 studio | indrakila 7a, surabaya
031-5038444, 031-72692112, 0838 56429139
http://d2studiofoto.blogspot.com/


0 komentar:

Posting Komentar

Posting

Archive